Islam, Agamaku
Blogger Skin
Kisah-kisah yang Menggugah
Menjadi Muslimah
Catatan Harian Menjadi Muslimah
 

Thursday, July 27, 2006

Haid

Siklus haid yang normal terdiri dari dua fase:

1. Fase Folikuler
Pada fase ini terjadi peningkatan jumlah hormon esterogen yang dihasilkan oleh folikel atau sel telur yang sedang berkembang dalam ovarium. Peninggian kadar estrogen ini akan menyebabkan terjadinya perubahan pada lapisan endometrium dalam rahim, dimana sel-selnya akan semakin membesar dan semakin banyak, untuk mempersiapkan diri sekiranya nanti terjadi ovulasi.

2. Fase Luteal
Fasi ini terjadi setelah ovulasi, yaitu keluarnya ovum yang sudah matang dari ovarium, yang menyebabkan peningkatan kadar hormon progesteron. Pada tahap awal dari fase ini, progesteron yang dihasilkan itu akan menjaga kestabilan atau keseimbangan efek dari hormin estrogen. Akibatnya pertumbuhan dari sel-sel endometrium akan lebih baik, bersiap atau menunggu kemungkinan dibuahinya sel teluar yang dilepaskan dari ovarium tadi, oleh sperma dari seorang laki-laki.

Kalau sekiranya tidak terjadi pembuahan, artinya tidak terjadi pertemuan antara ovum dan sperma, kadar estrogen dan progesteron akan menurun pula. Jika kadar kedua hormon ini menurun dan korpus luteum sudah sampai pula pada akhir kehidupannya, maka haid akan terjadi. Sel telur yang tidak dibuahi ini, beserta dengan sel-sel lapisan endometrium yang adinya tumbuh subur, menjadi terlepas disertai dengan pengeluaran darah yang berasal dari pecahnya pembuluh darah pada lapisan endometrium tersebut. Proses inilah yang merupakan siklus haid dari seorang wanita, biasanya berlangsung selama 28 hari.

Siklus haid yang sangat tipikal, berlangsung sebagai berikut:

Siklus tipikal ini berlangsung selama 28 hari, namun dapa berbeda pada setiap wanita. Siklus dianggap normal jika berlangsung selama 25-32 hari. Hari pertama terjadinya pengeluaran darah haid dihitung sebagai hari pertama siklus haid pada seorang wanita.

Hari 1-8
Kadar hormon progesteron menurun yang menyebabkan lepasnya dinding rahim lapisan dalam. Mulainya peristiwa haid. Pada waktu ini hormon dari kelenjar pituitari menerima isyarat dari hipotalamus, untuk merangsang pematangan sel teluar dalam indung telur, menyababkan meningkatnya kadar hormon estrogen.

Hari 5-11
Perdarahan haid biasanya akan berhenti pada hari ke-5 dan diikuti dengan pengeluaran lendir dari leher rahim dan vagina.

Pada hari ke 9-13, kadar hormon estrogen sampai pada batas tertinggi, lendir dari leher rahim menjadi bening dan encer. Ini merupakan awal dari hari-hari subur seorang wanita. Pada hari ke-13 kadar hormon pitutari yang merangsang pematangan dan penglepasan sel telur juga berada pada batas tertinggi serta suhu tubuh meningkat sekitar 0,5 derajat Celsius. Ovulasi atau lepasnya ovum dari ovarium menuju rahim terjadi pada hari ke-14.

Hari 15-23
Setelah ovulasi, jika sel telur tidak dibuahi oleh sperma, kadar estrogen menurun drastis. Folikel asal sel telur di ovarium berubah menjadi kelenjar yang disebut sebagai Corpus Luteum yang menghasilkan hormon progesteron.

Pada hari ke-15,16 keluar lendir kental dan pekat dari leher rahim yang merupakan lendir terakhir pada siklus haid ini.

Hari 24-28

Aktifitas Corpus Luteum mulai menurun dengan menyusutnya kelenjar tersebut, sehingga kadar hormon progesteron pun menurun. Ada sebagian kaum wanita mengalami gejala pra-haid, berupa pembesaran payudara dan perubahan perilaku seperti depresi dan mudah marah. Terkadang didiringi perut yang terasa kembung. Awal haid biasanya ditandai dengan turunnya suhu tubuh sampai 0,5 derajat Celsius.

Keluahan yang paling sering dijumpai adalah nyeri haid yang dikenal sebagai Dismenorea yang bisa datang pada permulaan atau sebelum haid.

Hukum Haid dalam Islam

Rasulullah saw bersabda:
"Bahwasannya (warna) darah haid itu merah kehitam-hitaman, sebagai umumnya di kalangan wanita, jika terjadi demikian hentikan shalat. Tetapi jika warnanya lain, maka berwudhulah dan shalatlah engakau karena darah yang demikian itu hukumnya sama dengan penyakit." (HR. Abu Daud, Nasaly, Ibnu Hibban, dan Daru Quthni, Hakim dengan catatan atas syara Muslim)

Dari hadits yang datang dari Ummi Athiyah ra dinyatakan sebagai berikut:
"Kami tidak menganggap haid, terhadap darah yang berwarna kuning atau keruh setelah suci." (HR Abu Daud dan Bukhari yang tidak menyebutkan setelah suci)

Yang diharamkan bagi yang sedang haid:

1. Shalat, fardhu maupun sunat

"Apabila datang haid, hendaklah engkau tinggalkan shalat." [HR. Bukhari]

2. Puasa, fardhu maupun sunat. Wajib bagi wanita yang tidak berpuasa saat Ramadhan untuk menggantinya (meng-qodho) sebanyak yang ditinggalkan.

"Kami diperintahkan meng-qodho puasa dan tidak diperintahkan meng-qodho shalat." [HR. Bukhari]

3. Membaca Al-Quran

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Rasulullah saw bersabda:
"Tidak boleh bagi yang sedang junub dan juga bagi yang sedang haid membaca Al-Quran. [HR. Tirmizi, Abu Daud, dan Ibnu Majah]

4. Berada di mesjid (i'tikaf)

5. Haram atas suami mentalaq isterinya disaat isteri sedang haid.

Rasulullah saw bersabda:
"Suruhlah dia merujuk isterinya kembali, kemudian hendaklah ia tahan dulu sampai perempuan itu suci, kemudian ia haid lagi, kemudian ia suci lagi, sesudah itu kalau ia (Ibnu Umar) menghendaki teruskan perkawinan itu, dan itulah yang baik, dan jika menghendaki (talaq) boleh ditalaq sebelum dicampurinya." [HR Bukhari dan Muslim]

6. Haram atas suami istri bersetubuh disaat isteri sengan haid.

"Mereka bertanya kepadamu (hai Muhammad) tentang darah haid, katakanlah bahwa haid itu suatu penyakit oleh karena itu jauhilah perempuan-perempuan itu (isterimu) ketika mereka sedang haid dan jangan kamu dekati mereka sehingga mereka suci lebih dulu.." (QS. Al-Baqarah: 222)

Cara bersuci setelah haid.