Islam, Agamaku
Blogger Skin
Kisah-kisah yang Menggugah
Menjadi Muslimah
Catatan Harian Menjadi Muslimah
 

Wednesday, March 08, 2006

Asiyah binti Muzahim

(QS. 28:9, 66:11)
Isteri Fir'aun. Wanita yang beriman pada Allah dan berlepas dari kekufuran Fir'aun, suaminya. Wanita yang teguh mempertahankan imannya walaupun disiksa dengan diikat pada empat tiang dan dicemeti hingga menemui syahidnya dalam keadaan tersenyum.

***

Dari Abu Hurairah, Nabi saw berkata: “Fir’aun memukulkan kedua tangan dan kakinya (Asiyah) dalam keadaan terikat. Maka ketika mereka (Fir’aun dan pengikutnya) meninggalkan Asiyah, malaikat menaunginya kaku ia berkata: Ya Rabb bangunkan sebuah rumah bagiku di sisimu dalam surga. Maka Allah perlihatkan rumah yang telah disediakan untuknya di surga sebelum meninggal.”

Dari Ibnu Abbas, dia berkata Rasulullah shalallau alaihi wassalam bersabda:
“Sebaik-baik wanita penghuni surga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun”
(ditakhrij Ahmad, Ath-Thabrany dan Al-Hakim)

***

Suatu ketika Fir'aun didatangi oleh seorang peramal. Peramal itu mengatakan bahwa kelak dia akan dibunuh oleh seorang lelaki dari Bani Israel. Menurut sang peramal, pembunuh itu kini usianya masih bayi. Mendengar hal itu Fir'aun langsung memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh seluruh bayi lelaki Bani Israel. Sebelum bayi itu tumbuh menjadi besar lalu membunuh dirinya, lebih baik bayi itu dibunuh dulu. Dengan begitu selamatlah dirinya dari pembunuhan itu. Begitulah jalan pikiran Fir'aun. Maka tak pelak lagi, semua bayi lelaki Bani Israel terbunuh. Bahkan seorang ibu yang sedang hamil pun ditunggui oleh tentara Fira'un. Jika ia melahirkan seorang bayi lelaki, tentara itu langsung membunuhnya.

Namun kehendak Allah berbeda dengan kemauan manusia. Dalam peristiwa ini ternyata Allah punya skenario tersendiri. Allah menyelamatkan salah satu bayi dari keturunan Bani Israel lewat istri Fira'un sendiri, Asiyah.

Sewaktu sedang mandi di pemandian, Asiyah tiba-tiba melihat peti berisi bayi lelaki. Bayi itu diambil dan dibawa pulang ke istana. Tentu saja orang-orang di istana tidak senang dengan kehadiran bayi itu. Jangan-jangan bayi itulah yang kelak membunuh majikannya. Mereka kemudian menghasut Fir'aun agar membunuhnya. Untungnya Asiyah cepat bertindak. Ia minta kepada Fir'aun agar tidak menuruti nasehat mereka. "(Ia) biji mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut menjadi anak, sedangkan mereka tidak menyadari," kata Asiyah kepada Fir'aun dalam surat Al-Qashash 9. Atas jasa Asiyah itu maka selamatlah sang bayi. Bahkan akhirnya bayi mungil itu diangkat menjadi putra Fir'aun.

Bayi lelaki itu diasuh sendiri oleh Asiyah. Ia sangat menyayangi putra angkatnya itu. Bayi tersebut diperlakukan seperti anaknya sendiri. Bayi yang tak lain adalah Nabi Musa itu mendapat didikan langsung dari Asiyah. Pernah suatu hari bayi itu digendong Fir'aun. Tiba-tiba sang bayi mencabut jenggotnya. Betapa marah Fir'aun ketika itu karena kesakitan. Ia memerintahkan pengawalnya untuk membunuh sang bayi. Namun sebelum niat itu dilaksanakan, lagi-lagi Asiyah tampil membelanya. Ia mengatakan kepada Fir'aun bahwa bayi itu tidak pantas dibunuh karena masih belum mengerti. Sebagai bukti, Asiyah meminta kepada pengawal Fir'aun untuk menyediakan roti dan arang api. Kemudian bayi itu disuruh memilih diantara keduanya. Ternyata bayi Musa memilih arang. Melihat hal itu, Fir'aun akhirnya bisa menerima argumentasi istrinya.

Selama di bawah asuhan Asiyah, Musa mendapatkan kasih sayang sepenuhnya seperti ibunya sendiri. Musa tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas dan gagah. Kecintaan Asiyah kepada Musa sungguh sangat besar. Ia tak rela orang lain menyakitinya. Pembelaannya kepada Musa tak sebatas ketika masih kecil saja, tetapi ia lakukan sampai dirinya menemui ajal.

Suatu kali, betapa gelisah hatinya ketika mendengar Musa telah membunuh seorang lelaki pengikut Fir'aun. Asiyah menyuruh Musa agar meninggalkan ibukota untuk menyelamatkan diri dari Fir'aun dan orang-orangnya.

Seiring perjalanan waktu, Musa tumbuh kian dewasa dan pengikutnya juga makin banyak. Maka Musa pun kian berani menentang Fir'aun. Suatu hari Musa kembali ke ibukota, bukan kembali pulang ke pangkuan ayah tirinya yang kejam itu, melainkan ia datang untuk memberi peringatan kepada Fir'aun dan pengikutnya. Mendengar keberanian Musa itu, Asiyah mengkhawatirkan keadaannya. Ia tahu betul watak kejam suaminya. Siapapun berani menentangnya, akan ditumpas habis. Tidak ada yang bisa mencegah tindakan kejam suaminya itu, termasuk Asiyah, istrinya sendiri. Tiada jalan lain, wanita shalihah ini kemudian berdoa kepada Allah untuk kemenangan Musa. Begitulah jika Allah berkehendak. Ternyata Fir'aun yang dholim itu mendapat pertentangan dari istrinya sendiri, karena kedholimannya.

Pertentangan itu semakin keras tatkala Fir'aun mendakwakan dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah oleh seluruh rakyatnya. Asiyah sedikitpun tidak mengakui ketuhanan Fir'aun. Ia rela menerima siksaan dan tekanan daripada mengakui suaminya sebagai tuhan. Asiyahlah satu-satunya keluarga istana yang tak mau patuh dan tunduk dengan dakwaan Fir'aun itu. Padahal seluruh keluarga istana menjadi pengikut Fir'aun karena takut dibunuh. Fir'aun adalah seorang raja yang lalim dan kejam. Ia memiliki bala tentara yang besar dan kejam. Sehingga sewaktu dia memerintahkan rakyatnya untuk menyembahnya hanya segelinir orang yang tak mau mengikuti perintah itu. Diantaranya nabi Musa, Asiyah dan pelayan rumah tangga kerajaan bernama Masyitoh.

Ketauladanan Asiyah

Asiyah termasuk sedikit diantara manusia yang namanya terukir dalam Al Qur'an. Allah memberikan penghormatan kepadanya karena ketakwaan dan keshalehannya. Allah menjadikannya sebagai contoh bagi kaum hawa yang tetap tegak dalam keyakinan tauhid walaupun berada di tengah-tengah lingkungan yang penuh dengan dosa dan kemusyrikan. Allah juga menjadikannya sebagai contoh bagi istri yang sabar. Istri penyabar bisa memberikan jasa sangat besar dalam memelihara keutuhan rumah tangga, kebahagiaan suami dan kegembiraan anak-anaknya. Istri seperti itu tidak akan mudah menceritakan kesulitan dan berbagai permasalahan yang akan menyedihkan dan mencemaskan suaminya. Walaupun sebenarnya ia menyimpan kepahitan dalam hatinya. Semua kesulitan akan dihadapinya dengan penuh ketabahan dan sikap pasrah kepada Allah.

Asiyah termasuk orang yang tak silau dengan kehidupan duniawi. Meski ia hidup di lingkungan Istana. Ia tidak tertarik dengan segala kemewahan yang ada di dalamnya. Ia tidak mau memanfaatkan kesempatan sebagai seorang istri Raja untuk bersenang-senang dan berfoya-foya. Malah ia mengangap rendah segala kemewahan dunia yang ada padanya dan meminta agar diselamatkan dari Fir'aun berikut keburukannya demi untuk menggapai kehidupan akhirat.

Sikap yang meremehkan bentuk-bentuk penampilan duniawi itu sudah menjadi sikap hidupnya. Padahal jika mau, ia tinggal berkata kepada para abdinya untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi hal itu tidak ia lakukan. Ia menyadari bahwa apa yang ada di istananya itu hanya kepuasan semu.

Baginya, kemuliaan yang hakiki dan kehormatan yang mutlak hanya ada pada Allah swt. Ia meyakini bahwa dunia beserta kenikmatannya akan lenyap, sedangkan akhirat adalah kehidupan kekal, damai abadi selamanya. Maka baginya lebih memilih hal yang kekal daripada yang fana.

Allah juga memberikan Asiyah hati yang lemah lembut. Hatinya yang lembut itu ia tunjukkan tatkala Fir'aun menghukum keluaga Masyithoh yang tak mau mengakui ketuhanannya. Ia adalah satu-satunya keluarga istana yang bercucuran air matanya ketika menyaksikan bagaimana keluarga Masyithoh dilemparkan ke dalam api, karena keluarga itu beriman kepada apa yang dibawa oleh Musa. Tanpa belas kasihan, pengawal Fir'aun melemparkan satu per satu anak Masyithoh ke dalam api. Hati Asiyah semakin teriris tatkala giliran anak terkecil yang masih ada dalam pelukan pelayan perempuan istana Fir'aun itu juga dilempar ke dalam api. Dan pada saat itulah ia juga melihat sebuah kebenaran ketika tiba-tiba bayi yang masih dalam gendongan itu berkata, "Wahai ibuku, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran". Bayi itu berkata kepada ibunya ketika perasaan takut dan iba menguasai hati Masyithoh.

Sewaktu semua orang berbondong-bondong menyatakan pengakuan terhadap ketuhanan Fir'aun, Asiyah malah sebaliknya. Ia terang-terangan menolak Fir'aun sebagai Tuhan. Betapapun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami, ia tidak bisa menerima pengakuan itu. Ia tetap memegang teguh keyakinannya bahwa Tuhan yang patut disembah adalah Allah Yang Esa.

Ia lebih memilih dihukum daripada harus mengakui ketuhanan suaminya yang berarti musyrik kepada yang kekal yaitu Allah. Sikapnya itu membuat Fir'aun marah. Asiyah terus menerus mendapat tekanan agar meninggalkan keyakinannya itu. Tetapi usaha itu sia-sia. Meski hidup di bawah tekanan dan ancaman, ia tak takut sedikitpun mempertahankan keyakinannya. Ia tetap sabar menghadapi perilaku buruk suaminya. Tabah menghadapi kekejaman suaminya dan hanya pasrah pada Allah.

Asiyah tetap teguh dalam mengikuti ajaran Musa as walau nyawa sebagai taruhannya. Ketika Fir'aun masuk ke dalam kamarnya setelah membakar keluarga Masyithoh, Fir'aun berkata, "Kuharap kamu telah menyaksikan bagaimana yang terjadi atas perempuan yang ingkar kepada tuhannya yang agung, Fir'aun." Dengan cepat Asiyah menyela, "Celaka engkau hai Fir'aun dengan azab Allah!" Tak syak lagi, perkataannya itu telah membuat Fir'aun marah besar. Fir'aun segera memerintahkan para pengawal untuk mengikatnya di empat tiang kebun istana, kemudian para pengawal mengambil cemeti dan menderakan ke tubuh Asiyah. Sementara Fir'aun memerintahkan untuk memperkeras siksaan itu. Tak sepatah katapun keluar dari mulut Asiyah selain munajat kepada Allah swt yang diabadikan dalam al-Qur'an, "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim". (QS. 66:11). Setelah itu Asiyah pun pergi menuju Tuhannya sebagai wanita syahidah di empat tiang.•