Islam, Agamaku
Blogger Skin
Kisah-kisah yang Menggugah
Menjadi Muslimah
Catatan Harian Menjadi Muslimah
 

Wednesday, March 08, 2006

'A'isyah binti Abu Bakar

(QS. 12:18, 24:11)
Puteri dari Abu Bakar dengan Ummu Ruman. Dinikahi Rasulullah sebelum hijrah atas usul Khaulah binti Hakim, dan berkumpul dengan beliau setekah hijrah. Difitnah oleh munafiqiin (Abudullah bin Ubay bin Salul, dkk) berbuat serong dengan Shafwan ketika tertinggal rombongan dalam perang Bani Musthaliq. Kaum musliminpun ada yang terpancing, sehingga turunlah ayat yang membersihkan dirinya dari tuduhan keji itu. Ummul mu'minin yang paling dicintai Rasulullah setelah Khadijah dan paling luas ilmunya dan kuat ingatannya, mengerti obat-obatan dan bahasa.

***

Aisyah sendiri belajar membaca. Dia belajar membaca Al Quran dari ayahnya sendiri. Untuk mengembangkan pelajaran tulis baca, Nabi mengerahkan para tawanan dari perang Badar. Seorang tawanan bisa mendapat kemerdekaannya kembali, setelah dapat mengajar sepuluh orang Muslimm, sampai pandai menulis dan membaca.

Abu Bakar pada dasarnya seorang yang pandai bicara. Dia ahli pidato. Dia juga ahli dalam ilmu ranji atau asal usul nenek moyang. Kepandaian Abu Bakar ini, banyak sedikitnya juga turun kepada anaknya Aisyah. Kepandaian membaca Al Quran memberi pengaruh kepada pribadi Aisyah, terutama dalam hal sopan santun dan budi pekerti. Islam mengutamakan budi pekerti dan akhlak mulia. Tinggi rendahnya derajat seseorang ditentukan oleh pengabdiannya kepada Allah.

Keajaiban besar dalam kemajuan sejarah yang dibawa oleh Rasulullah saw ialah perobahan besar-besaran dalam pribadi berjuta-juta manusia. Pendidikan Aisyah yang lebih tinggi terletak dalam asuhan Rasulullah saw. Sedangkan Rasulullah saw adalah seorang guru terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Aisyah dididik denga suatu cita-cita tertentu. Nabi membentuk pribadi dan jiwa Aisyah sebagai wanita setia, yang bertaqwa kepada Allah, dan wanita yang akan menerangkan ajaran Islam kepada wanita-wanita lain.

Dengan hasrat yang menakjubkan, Aisyah menunjukkan seluruh bakatnya untuk menyempurnakan pendidikannya. Setiap kebajikan manusia, terdapat penyempurnaannya dalam pribadi Muhammad saw. Aisyah tertarik dan tenggelam dalam pribadi mulia yang tidak ada bandingannya itu. Ini adalah suatu kesempatan baik. Dan kesempatan ini, menjadi satu kebahagiaan yang diberikan kepadanya. Dia mengambil kesempatan ini, dan mempergunakan sebaik-baiknya untuk menyempurnakan pendidikannya, menjadi wanita luhur dan bertaqwa.

Pikiran Aisyah selalu penuh dengan pelbagai masalah baru. Masalah baru ini dapat dipecahkannya dengan mengajukanpertanyaan-pertanyaan kepada Nabi. Salah satu pintu kamarnya berhadapan dengan masjid. Jika Rasulullah saw bertabligh menyampaikan ajarannya dalam masjid, Aisyah duduk di muka pintunya, mengikuti kuliah Nabi itu. Dia mendengarkannya dengan seksama. Setiap perkataan Rasulullah saw dimintainya dan dianalisanya. Dengan mengikuti kuliah-kuliah yang tidak resmi ini, Aisyah menjadi seorang wanita yang sangat alim dan pandai. Dia menjadi murid Rasulullah saw yang mempunyai pengetahuan yang luas dan pengertian yang mendalam.

Dalam ilmu Al Quran dan hadits sedikit sekali sahabat yang bisa menyamai Aisyah. Semangat Aisyah untuk menyelidiki sesuatu masalah, memberikan sumber ilmu yang tetap kepada Islam. Pertanyaan-pertanyaannya kepada Anbi memberikan keterangan atau perbagai masalah yang rumit-rumit, terutama masalah kewanitaan.

Salah satu conton di antaranya, Al Quran menyatakan bahwa berperang di jalan Allah adalah suatu kewajiban bagi setiap orang

Muslim. Atas masalah ini suatu hati Aisyah mengajukan pertanyaan kepada Rasululllah saw, “”Wahai Rasulullah, wajibkan bagi seorang wanita untuk pergi ke medan perang seperti laki-laki?”

Rasulullah menjawab, “Tidak, naik haji sudah cukup bagi mereka.”

Pertanyaan Aisyah ini telah memberikan pengetahuan penting, yakni pengecualian kepada wanita terhadap hukum jihad yang dikemukakan dalam Al Quran.

Suatu hari Aisyah bertanya pula, “Ya Rasulullah, perlukah persetujuannya seorang wanita itu sebelum dia dikawinkan?”

Rasulullah menjawab, “Anak perawan diberi tahu dan wanita janda dimintai persetujuannya.” Nabi melanjutka, “Diamnya mereka berarti persetujuan.”

Kata-kata Rasulullah saw ini menjadi suatu ketentuan hukum baru. Jika orang diam saja terhadap suatu masalah yang diajukan kepadanya, dia dianggap menyetujui masalah itu.

Pada suatu hari Rasulullah berkata, “Allah menyukai orang yang suka menemuiNya, dan tidak menyukai orang yang tidak suka menemuiNya.”

Atas masalah yang sulit ini Aisyah menyatakan, “Ya Rasulullah, tetapi tidak ada orang yang suka mati.”
“Ya, itupun benar.” Kata Rasulullah saw. “Tetapi menurut pendirianku, masalahnya adalah sebagai berikut. Jika seorang telah sadar akan kemurahan hati Allah, dan tahu bahwa Allah pengampun, penyayang dan mempunyai surga, dia akan mulai mencintai Allah di atas segala kecintaannya. Allah pun akan mencintainya pula. Tetapi, jika seseorang mendengar bahwa ada azab yang pedih disediakan untuknya, dia akan takut berhadapan dengan Allah. Allah pun tidak suka kepadanya. “

Pada suatu hari, Rasulullah saw menerangkan. “Ikutilah jalan tengah. Usahakan untuk membawa rakyat lebih dekat kepadamu.

Katakan kepada mereka, bahwa mereka akan masuk surga, tidak hanya semata-mata atas pahala yang dibuatnya saja, tetapi juga atas karunia Allah. “ Pernyataan Nabi ini terasa aneh bagi Aisyah. Sebai itu dia mengajukan pertanyaan, “Berlaku jugakan hal ini terhadap diri Tuan?”

Rasulullah menjawab, “Ya, hal ini berlaku juga terhadap diriku. Aku juga harus berdo’a untuk mendapatkan kasih sayang dan pengampunan Allah.”

Suatu kali Aisyah berkata mengenai madunya, Syafiayah. “Wah, dia itu perempuan cebol.” Mendengar ini Rasulullah saw menegur Aisyah, “Hai Aisyah, kau mengatakan sesuatua yang bisa membusukkan air laut.”
“Maafkan daku, Ya Rasulullah, Aku hanya mengatakan suatu kenyataan.”

Suatu hari ada barang Aisyah dicuri orang. Karena marahnya, Aisyah menyumpah-nyumpah orang yang mencuri itu. Mendengar Aisyah menyumpahi pencuri, Rasulullah saw berkata, “Aisyah, janganlah kamu mengambil alih dosa pencuri itu dengan menyumpahinya.”

Aisyah mendapat pendidikan akhlak seperti ini, siang dan malam. Aisyah hidup di bawah pengawasan guru terbesar di dunia ini, dalam waktu 9 tahun. Sebab itulah Aisyah menjadi seorang alim, saleh dan bertaqwa.

Aisyah adalah satu-satunya wanita yang masih gadis, ketika dikawini Rasulullah saw. Istri-istri beliau yang lain semuanya janda, sebab itu mereka telah pernah mendapat pengajaran dari suaminya terdahulu. Tetapi Aisyah memasuki rumah tangga Rasulullah denga jiwa yang putih bersih laksana secarik kertas baru. Dia punya pikiran yang mudah patuh. Perbedaan ini sangat penting. Kepribadian Rasulullah saw yang menarik itu, cukup mempunyai tenaga untuk membentuk hati dan rohani seseorang. Hati dan rohani Aisyah mendapat pembentukan menurut irama ajaran Nabi. Hasil yang memuaskan ini mendapat pujian istimewa dari Rasulullah saw. Rasulullah saw juga percaya, bahwa Aisyah akan memainkan peranan penting dalam perjuaannya Islam sesudah beliau wafat.